Sejak 2016 hingga 2024, produksi tanaman biofarmaka menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, didorong oleh meningkatnya permintaan akan bahan alami dan produk herbal di pasar domestik dan internasional. Jenis tanaman biofarmaka meliputi rempah-rempah, tanaman obat, dan tanaman aromatik seperti jahe, kunyit, temulawak, sereh, dan lain-lain. Produksi meningkat secara bertahap berkat pengembangan metode budidaya yang lebih efisien, peningkatan kesadaran akan manfaat kesehatan, serta dukungan pemerintah terhadap industri biofarmaka. Meskipun mengalami fluktuasi akibat faktor cuaca dan hama, sektor ini menunjukkan potensi besar untuk pengembangan berkelanjutan di masa depan.